Sulitnya menjaga rahasia, tapi harus !

23May08

Bismillah

Dalam bahasa Arab, dipercaya identik dengan kata amanah. Kata ini tentu saja sudah sering kita dengar, bahkan mungkin sangat akrab. Kata amanah ini juga sudah diserap dalam bahasa Indonesia, sehingga kita sering dengar kalimat “seseorang diberi amanah”, yang artinya, seseorang itu diberi kepercayaan.

Dipercaya…atau diberi kepercayaan adalah salah satu hal yg cukup sulit dilakukan oleh banyak orang, terutama dewasa ini. Yang dimaksud dipercaya di sini, tentunya bersifat umum. Dipercaya untuk mengelola uang, dipercaya untuk menjabat suatu tampuk pemerintahan, apalagi dipercaya untuk menjaga rahasia.

Dalam Islam, amanah menempati posisi yg sangat ’strategis’. Rasulullah SAW sendiri bahkan mendapat gelar Al Amin (yang bisa dipercaya). Bahkan, amanah menjadi salah satu pembeda kaum muslim dengan kaum munafik. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dari Abu Hurairah,“Tanda-tanda munafik itu ada tiga:
– apabila bicara, dia dusta;
– apabila berjanji, dia ingkari; dan
– apabila dipercaya (amanah), dia berkhianat.”

1. Dipercaya Mendapat Harta
Allah SWT menganugerahkan kepada kita harta. Meski secara kasat mata, harta ini milik kita…namun sebenarnya (secara hakiki) harta ini adalah titipan Allah adanya. Sejauh mana kita membelanjakan harta yg diberikan-Nya, tentu akan dipantau olehNya.

Islam telah menjelaskan bahwa dalam harta yg kita miliki, terdapat hak orang lain. Itu sebabnya Islam mengatur ‘pembagian’ harta kita dengan orang lain, apakah dalam bentuk sedekah, zakat, infaq dan seterusnya.

Sayangnya, banyak orang yg berharta yg masih tertipu. Mereka beranggapan harta yg mereka miliki adalah benar-benar milik mereka sepenuhnya. Sehingga mereka membelanjakannya untuk menuruti nafsu mereka. Tidak ada istilah berbagi dengan orang lain, dalam kamus mereka.

Akibatnya, ketika Allah SWT mencabut nikmat-Nya ini, dg menghilangkan harta, mereka menjadi kebingungan dan tak sedikit yg menjadi gila karenanya.

2. Dipercaya Menjaga Harta
Seseorang mendapat amanah untuk menjaga harta. Misalkan seorang bankir atau kasir atau pejabat sosial atau pekerjaan lain yg berhubungan dengan uang.

Dalam poin ini, sikap dipercaya yg dimaksud adalah tidak korupsi. Sudah menjadi cerita umum, bahwa seorang pejabat atau orang yg dipercaya membagikan sumbangan (kepada korban bencana) malah memakan sebagian harta yg diamanahkan kepada mereka. Bahkan jumlah harta yg mereka ‘makan’ dan larikan sangatlah besar dan membuat kita hanya terbengong-bengong. Padahal para korban bencana sangatlah membutuhkan kucuran dana untuk menyambung hidup mereka, eh…malah dibawa lari.

Seperti pernah kita dengar dan baca, ketika sedang ramai pembagian uang tunai sosial, selalu saja ada oknum yg memanfaatkan celah ini. Uang bantuan dipotong 10 ribu, 20 ribu, dan dalam jumlah lain, dengan dalih untuk biaya transportasi, uang pengurusan, dan alasan-alasan lainnya.

Padahal, jika mereka ingat sabda Rasulullah SAW, yg menyatakan bahwa makan 1 suapan makanan yg berasal dari harta yg haram, maka ibadahnya tidak akan diterima selama 40 hari, mereka pasti akan berpikir ribuan kali. Mengapa? Karena kian besar jumlah harta yg dikorupsi, bisa dibayangkan berapa lama ibadah mereka tidak diterima?

Bahkan, menurut seorang guruku, orang yg terbiasa makan dari harta yg haram, maka pikirannya dan tindakannnya tidak akan jauh dari hal2 yg haram juga. Beliau mencontohkan, seorang perampok akan benyak menghabiskan hasil rampokannya untuk berjudi dan main perempuan. Mana ada dalam pikiran mereka untuk membelanjakan harta mereka di jalan Allah SWT (infaq, sedekah, zakat, dst)? Jikapun ada, maka itu hanyalah kamuflase/tipuan belaka….dan guruku menyatakan, Allah SWT sendiri tidak akan mau menerimanya, karena harta itu diperoleh dengan cara yg haram.

Jadi, jangan iri dan heran dengan pejabat yg ’sok’ membantu pembangunan masjid atau menolong orang miskin dengan harta hasil korupsi. Dijamin tidak berkah, biasanya anak pejabat, pejabat, larinya kayak perampok, main perempuan, konsumsi narkoba, perjudian, bisnis haram, melanggengkan jabatan, suap sana-sini, dst.

Termasuk dalam poin ini, adalah seseorang yg dipinjami harta benda oleh saudara/temannya. Apabila niat-nya adalah meminjam, maka sudah semestinya dia mengembalikan harta benda yg dia pinjam. Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita jumpai orang yg dipinjami harta benda berusaha berkelit dari kewajibannya mengembalikan harta benda tersebut. Bahkan, banyak dari mereka yg malah berusaha memiliki harta benda tersebut, dengan berbagai cara. (silakan baca kembali artikel etika berhutang dan meminjam barang)

3. Dipercaya Menjaga Rahasia
Dari 2 poin sebelumnya, barangkali poin ini yg (lebih) sulit dilakukan. Banyak orang yg diberi cerita saudaranya mengenai sebuah rahasia, namun kemudian dibocorkannya kepada orang lain tanpa seijin saudaranya itu. Padahal rahasia tersebut bisa jadi sebuah aib (hal memalukan) yg hendaknya tidak disebar luaskan, karena bisa mempermalukan dan mencoreng kening di dahi (peribahasa) serta ingin dilupakan.

Namun, alih-alih menjaga rahasia, orang yg dipercaya tersebut malah menceritakan kepada orang lain…istilah ABG sekarang, ngember…maksudnya seperti ember, menampung banyak rahasia lalu ramai-ramai dia ekspos.

Banyak contoh untuk kasus ini. Seseorang bercerita bahwa dia sangat sulit percaya kepada teman-temannya, karena banyak dari mereka yg membocorkan rahasia yg dia ceritakan kepada mereka.

Semula seseorang curhat kepada (katakanlah) si A karena dia percaya si A akan membantu dia, mencarikan jalan keluar dan menjaga rahasia. Memang, si A membantu mencarikan jalan keluar, bahkan banyak solusi alternatif yg dilontarkan. Namun, ternyata si A juga membantu menyebar rahasianya. Walhasil, banyak temannya yg mengolok-olok dia.

Serupa tapi tak sama, orang yg membocorkan rahasia terkadang tergelitik untuk bergosip dan mengghibah. Hal ini terutama terjadi karena pada dasarnya rahasia dan gosip merupakan hal yg saling berkaitan. Tidak heran, si penyebar rahasia kadang mengakhiri ceritanya dengan berkata :
“Eh, JANGAN BILANG SIAPA-SIAPA YA…saya dapat berita ini dari …. Eh, ini RAHASIA KITA BERDUA LHOOO…”. Pencerita lainnya, juga memberi embel-embel yg sama…JANGAN BILANG SIAPA-SIAPA DAN INI RAHASIA KITA BERDUA. Sama saja menyebarkan rahasia yang diamanatkan ke kita, cuma diberi label “jangan bilang siapa-siapa” !

Ingatlah bahaya dan akibat yg ditimbulkannya akibat bergosip, menyebar rahasia, orang yang suka membocorkan rahasia, tidak akan dipercaya lagi oleh orang lain. Marilah kita jaga rahasia dan jangan jadi tukang ngember …



No Responses Yet to “Sulitnya menjaga rahasia, tapi harus !”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: